17 APRIL 2020
Ini merupakan penulisan rangkuman dari BAB II dan III pada UU No. 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, semoga dengan ada bacaan ini bisa bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi semua orang yang sering berhubungan pada Perkeretaapian.
UNDANG-UNDANG
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 23
TAHUN 2007
TENTANG
PERKERETAAPIAN
BAB II
ASAS DAN TUJUAN
Pasal 2
Perkeretaapian sebagai
bagian yang tidak terpisahkan dari sistem transportasi
nasional diselenggarakan berdasarkan:
a.
asas
manfaat;
b.
asas
keadilan;
c.
asas
keseimbangan;
d.
asas
kepentingan umum;
e.
asas
keterpaduan;
f.
asas
kemandirian;
g.
asas
transparansi;
h.
asas
akuntabilitas; dan
i.
asas
berkelanjutan.
Pasal 3
Perkeretaapian
diselenggarakan dengan tujuan untuk memperlancar
perpindahan orang dan/atau barang secara massal dengan selamat,
aman, nyaman, cepat dan lancar, tepat, tertib dan teratur, efisien,
serta menunjang pemerataan, pertumbuhan, stabilitas, pendorong, dan
penggerak pembangunan nasional.
BAB III
TATANAN PERKERETAAPIAN
Pasal 4
Kereta api menurut jenisnya terdiri
dari:
a.
kereta
api kecepatan normal;
b.
kereta
api kecepatan tinggi;
c.
kereta
api monorel;
d.
kereta
api motor induksi linear;
e.
kereta
api gerak udara;
f.
kereta
api levitasi magnetik;
g.
trem;
dan
h.
kereta
gantung.
Pasal 5
1. Perkeretaapian
menurut fungsinya terdiri dari:
a.
perkeretaapian
umum; dan
b.
perkeretaapian
khusus.
2. Perkeretaapian
umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri
dari:
a.
perkeretaapian
perkotaan; dan
b.
perkeretaapian
antarkota.
3. Perkeretaapian
khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b hanya
digunakan secara khusus oleh badan usaha tertentu untuk
menunjang kegiatan pokok badan usaha tersebut.
Pasal 6
1. Tatanan
perkeretaapian umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1)
huruf a meliputi:
a.
perkeretaapian
nasional;
b.
perkeretaapian
provinsi; dan
c.
perkeretaapian
kabupaten/kota.
2. Tatanan
perkeretaapian umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan
satu kesatuan sistem perkeretaapian yang disebut tatanan perkeretaapian
nasional.
3. Sistem perkeretaapian
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus terintegrasi dengan moda transportasi
lainnya.

No comments:
Write comments