Sunday, 19 April 2020

BAB II DAN BAB III UU No. 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian

17 APRIL 2020

Ini merupakan penulisan rangkuman dari BAB II dan III pada UU No. 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, semoga dengan ada bacaan ini bisa bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi semua orang yang sering berhubungan pada Perkeretaapian.







UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 23 TAHUN 2007
TENTANG
PERKERETAAPIAN

BAB II
ASAS DAN TUJUAN
Pasal 2

Perkeretaapian sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem transportasi nasional diselenggarakan berdasarkan:
a.     asas manfaat;
b.     asas keadilan;
c.     asas keseimbangan;
d.     asas kepentingan umum;
e.     asas keterpaduan;
f.       asas kemandirian;
g.     asas transparansi;
h.     asas akuntabilitas; dan
i.       asas berkelanjutan.

Pasal 3

Perkeretaapian diselenggarakan dengan tujuan untuk memperlancar perpindahan orang dan/atau barang secara massal dengan selamat, aman, nyaman, cepat dan lancar, tepat, tertib dan teratur, efisien, serta menunjang pemerataan, pertumbuhan, stabilitas, pendorong, dan penggerak pembangunan nasional.

BAB III
TATANAN PERKERETAAPIAN
Pasal 4

Kereta api menurut jenisnya terdiri dari:
a.     kereta api kecepatan normal;
b.     kereta api kecepatan tinggi;
c.     kereta api monorel;
d.     kereta api motor induksi linear;
e.     kereta api gerak udara;
f.       kereta api levitasi magnetik;
g.     trem; dan
h.     kereta gantung.

Pasal 5

1.    Perkeretaapian menurut fungsinya terdiri dari:
a.     perkeretaapian umum; dan
b.     perkeretaapian khusus.

2.    Perkeretaapian umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri dari:
a.     perkeretaapian perkotaan; dan
b.     perkeretaapian antarkota.

3.   Perkeretaapian khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b hanya digunakan secara khusus oleh badan usaha tertentu untuk menunjang kegiatan pokok badan usaha tersebut.

Pasal 6
1. Tatanan perkeretaapian umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a meliputi:
a.     perkeretaapian nasional;
b.     perkeretaapian provinsi; dan
c.     perkeretaapian kabupaten/kota.

2.  Tatanan perkeretaapian umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan satu kesatuan sistem perkeretaapian yang disebut tatanan perkeretaapian nasional.

3. Sistem perkeretaapian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus terintegrasi dengan moda transportasi lainnya.



No comments:
Write comments