05 APRIL 2020
Ini merupakan penulisan rangkuman dari BAB II, III dan BAB IV pada Undang-undang No. 17 Tahun 2008 Tentang PELAYARAN , semoga dengan ada bacaan ini bisa bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi semua orang yang sering berhubungan pada angkutan perairan.
![]() |
| Kapal Berbendera Indonesia dan Kapal Berbendera Asing di Perairan Indonesia |
UNDANG-UNDANG
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR
17 TAHUN 2008
TENTANG
PELAYARAN
BAB II
ASAS DAN TUJUAN
Pasal 2
Pelayaran diselenggarakan
berdasarkan:
a.
asas
manfaat;
b.
asas
usaha bersama dan kekeluargaan;
c.
asas
persaingan sehat;
d.
asas
adil dan merata tanpa diskriminasi;
e.
asas
keseimbangan, keserasian, dan keselarasan;
f.
asas
kepentingan umum;
g.
asas
keterpaduan;
h.
asas
tegaknya hukum;
i.
asas
kemandirian;
j.
asas
berwawasan lingkungan hidup;I
k.
asas
kedaulatan negara; dan
l.
asas
kebangsaan.
Pasal
3
Pelayaran
diselenggarakan dengan tujuan:
a. memperlancar
arus perpindahan orang dan/atau barang melalui perairan dengan mengutamakan
dan melindungi angkutan di perairan dalam rangka memperlancar kegiatan
perekonomian nasional;
b.
membina
jiwa kebaharian;
c.
menjunjung
kedaulatan negara;
d.
menciptakan
daya saing dengan mengembangkan industri angkutan perairan nasional;
e.
menunjang,
menggerakkan, dan mendorong pencapaian tujuan pembangunan nasional;
f.
memperkukuh
kesatuan dan persatuan bangsa dalam rangka perwujudan Wawasan Nusantara;
dan
g.
meningkatkan ketahanan nasional.
BAB III
RUANG LINGKUP BERAKUNYA UNDANG-UNDANG
Pasal 4
Undang-Undang ini berlaku untuk:
a. semua
kegiatan angkutan di perairan, kepelabuhanan, keselamatan dan keamanan pelayaran,
serta perlindungan lingkungan maritim di perairan Indonesia;
b.
semua
kapal asing yang berlayar di perairan Indonesia; dan
c.
semua kapal berbendera Indonesia yang
berada di luar perairan Indonesia.
BAB IV
PEMBINAAN
Pasal 4
1)
Pelayaran
dikuasai oleh negara dan pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah.
2)
Pembinaan pelayaran sebagaimana dimaksud pada ayat 1)
meliputi:
a.
pengaturan;
b.
pengendalian;
dan
c.
pengawasan.
3) Pengaturan sebagaimana dimaksud pada ayat 2) huruf a
meliputi penetapan kebijakan umum dan
teknis, antara lain, penentuan norma, standar, pedoman, kriteria, perencanaan,
dan prosedur termasuk persyaratan keselamatan dan keamanan pelayaran
serta perizinan.
4) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat 2) huruf b
meliputi pemberian arahan, bimbingan, pelatihan, perizinan, sertifikasi,
serta bantuan teknis di bidang pembangunan dan
pengoperasian.
5) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat 2) huruf c
meliputi kegiatan pengawasan pembangunan dan pengoperasian agar sesuai
dengan peraturan perundang-undangan termasuk melakukan tindakan
korektif dan penegakan hukum.
6)
Pembinaan pelayaran sebagaimana dimaksud pada ayat 2)
dilakukan dengan memperhatikan seluruh aspek kehidupan masyarakat dan
diarahkan untuk :
a.
memperlancar
arus perpindahan orang dan/atau barang secara massal melalui perairan
dngan selamat, aman, cepat, lancar, tertib dan teratur, nyaman, dan berdaya
guna, dengan biaya yang terjangkau oleh daya beli masyarakat;
b.
meningkatkan
penyelenggaraan kegiatan angkutan di perairan, kepelabuhanan, keselamatan
dan keamanan, serta perlindungan lingkungan maritim sebagai bagian
dari keseluruhan moda transportasi secara terpadu dengan memanfaatkan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi;
c. mengembangkan
kemampuan armada angkutan nasional yang tangguh di perairan serta
didukung industri perkapalan yang andal sehingga mampu memenuhi kebutuhan
angkutan, baik di dalam negeri maupun dari dan ke luar negeri;
d. mengembangkan
usaha jasa angkutan di perairan nasional yang andal dan berdaya saing
serta didukung kemudahan memperoleh pendanaan, keringanan perpajakan, dan
industri perkapalan yang tangguh sehingga mampu mandiri dan bersaing;
e. meningkatkan
kemampuan dan peranan kepelabuhanan serta keselamatan dan keamanan
pelayaran dengan menjamin tersedianya alurpelayaran, kolam pelabuhan,
dan Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran yang memadai dalam rangka menunjang
angkutan di perairan;
f.
mewujudkan
sumber daya manusia yang berjiwa bahari, profesional, dan mampu mengikuti
perkembangan kebutuhan penyelenggaraan pelayaran; dan
g.
memenuhi
perlindungan lingkungan maritim dengan upaya pencegahan dan penanggulangan
pencemaran yang bersumber dari kegiatan angkutan di perairan, kepelabuhanan,
serta keselamatan dan keamanan.
7) Pemerintah daerah melakukan pembinaan
pelayaran sebagaimana dimaksud pada ayat 6) sesuai dengan kewenangannya

No comments:
Write comments